Banyak
orang di masa lalu, percaya bahwa langit itu berlapis tujuh. Ini berkaitan
dengan pengetahuan mereka tentang ada-nya tujuh benda langit utama dengan jarak
yang berbeda-beda. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan mereka atas gerakan
benda-benda tersebut.
Benda langit yang lebih cepat gerak-nya di langit dianggap lebih dekat jarak-nya. Lalu mereka menggambar-kan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah.
Di
langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga
disimpul-kan sebagai yang paling dekat. Langit kedua ditempati Merkurius (Bintang
Utarid). Venus (Bintang Kejora) berada di langit ketiga. Sedang-kan matahari
ada di langit keempat. Di langit kelima ada Mars (Bintang Marikh). Di langit
keenam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ketujuh ditempati Saturnus
(Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai
pusat alam semesta.
Orang-orang
dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit
itu adalah dewa-dewa yang memengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruh-nya
bergantian dari jam ke jam, dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut
pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan.







